Berita
Lingkungan Aman Anak Langkah Nyata Stop Bullying di Surabaya
20 October 2026
Bullying bukan sekadar candaan yang dilakukan anak-anak. Perundungan dapat meninggalkan rasa takut, kehilangan kepercayaan diri, bahkan memengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak. Karena itu, menciptakan lingkungan aman anak membutuhkan perhatian dan kerja sama dari keluarga, sekolah, masyarakat, serta berbagai pihak yang berinteraksi dengan anak.
Di kota besar seperti Surabaya, anak menjalani aktivitas di banyak lingkungan. Mereka tidak hanya berada di rumah dan sekolah, tetapi juga berinteraksi di lingkungan tempat tinggal, tempat bermain, organisasi, kegiatan keagamaan, hingga ruang digital.
Situasi tersebut membuat upaya menghentikan bullying perlu dilakukan secara menyeluruh. Anak perlu merasa bahwa ada orang dewasa yang mau mendengarkan, melindungi, dan membantu ketika mereka menghadapi perundungan.
Mengapa Lingkungan Aman Anak Sangat Penting?
Lingkungan yang aman memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh tanpa rasa takut. Anak dapat belajar, bermain, bersosialisasi, dan mengembangkan potensinya dengan lebih percaya diri.
Sebaliknya, lingkungan yang membiarkan bullying dapat membuat anak merasa tidak berdaya. Korban mungkin memilih diam karena takut masalah menjadi lebih besar atau khawatir tidak dipercaya oleh orang dewasa.
Karena itu, lingkungan aman anak bukan hanya berarti tidak ada kekerasan fisik. Lingkungan yang aman juga harus terbebas dari penghinaan, ancaman, pengucilan, intimidasi, dan perilaku yang membuat anak merasa tidak berharga.
Kenali Bentuk Bullying pada Anak
Langkah pertama untuk menghentikan bullying adalah memahami bentuk-bentuknya. Banyak orang dewasa masih menganggap perundungan sebagai bagian normal dari proses pergaulan anak.
Padahal, bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk.
1. Bullying Verbal
Bullying verbal berupa ucapan yang merendahkan atau menyakiti anak. Contohnya adalah mengejek fisik, memberikan julukan yang menghina, mempermalukan, mengancam, atau mengeluarkan kata-kata kasar secara berulang.
Meskipun tidak meninggalkan luka secara fisik, perkataan tersebut dapat memengaruhi rasa percaya diri anak.
2. Bullying Fisik
Bullying fisik dapat berupa memukul, menendang, mendorong, mencubit, menjambak, atau melakukan tindakan lain yang menyakiti tubuh anak.
Perilaku tersebut tidak boleh dianggap sebagai permainan apabila membuat anak merasa takut, terancam, atau terluka.
3. Bullying Sosial
Bullying juga dapat terjadi melalui hubungan sosial. Misalnya, sengaja mengucilkan seorang anak dari kelompok, menyebarkan rumor, mempermalukan anak di depan teman-temannya, atau mengajak anak lain untuk menjauhinya.
Bentuk perundungan ini terkadang sulit terlihat karena terjadi melalui dinamika pertemanan.
4. Cyberbullying
Perkembangan teknologi membuat bullying dapat terjadi di ruang digital. Komentar menghina, penyebaran foto tanpa izin, pesan ancaman, akun palsu, hingga mempermalukan seseorang di media sosial merupakan contoh perilaku yang perlu diwaspadai.
Anak membutuhkan pendampingan agar memahami bahwa perilaku di dunia digital juga memiliki dampak nyata.
Tanda Anak Mungkin Mengalami Bullying
Tidak semua anak berani menceritakan pengalaman buruknya. Oleh sebab itu, orang tua dan guru perlu memperhatikan perubahan perilaku.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain anak tiba-tiba enggan pergi ke sekolah, menjadi lebih pendiam, kehilangan semangat melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai, mengalami perubahan pola tidur, atau terlihat cemas ketika menerima pesan di ponsel.
Perubahan nilai akademik dan hubungan sosial juga dapat menjadi sinyal yang perlu diperhatikan.
Namun, satu tanda saja tidak otomatis berarti anak mengalami bullying. Orang dewasa perlu mengajak anak berbicara dengan tenang dan tidak langsung menyalahkan atau menghakimi.
Langkah Nyata Membangun Lingkungan Aman Anak di Surabaya
Menciptakan lingkungan aman tidak harus dimulai dari program besar. Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
1. Bangun Komunikasi Terbuka di Rumah
Rumah harus menjadi tempat pertama bagi anak untuk merasa aman. Orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk bercerita tanpa takut dimarahi.
Daripada langsung bertanya, “Kamu salah apa?”, cobalah menggunakan pertanyaan yang lebih terbuka seperti, “Ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman hari ini?”
Respons orang tua sangat penting. Ketika anak berani bercerita, dengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian.
2. Ajarkan Anak Berani Berkata Tidak
Anak perlu memahami bahwa dirinya berhak mendapatkan perlakuan yang baik. Ajarkan mereka untuk mengatakan “tidak” ketika menghadapi perilaku yang membuat mereka tidak nyaman.
Anak juga perlu mengetahui kepada siapa mereka dapat meminta bantuan. Misalnya orang tua, guru, wali kelas, konselor, pengasuh, atau orang dewasa terpercaya lainnya.
3. Sekolah Perlu Memiliki Budaya Anti-Bullying
Sekolah merupakan salah satu tempat penting dalam membangun lingkungan aman anak. Pencegahan bullying sebaiknya tidak hanya dilakukan setelah terjadi kasus.
Sekolah dapat membangun budaya saling menghargai melalui edukasi, aturan yang jelas, pengawasan di area yang rawan, serta mekanisme pelaporan yang mudah dipahami anak.
Guru juga perlu mendapatkan dukungan agar mampu mengenali tanda-tanda perundungan dan merespons laporan secara tepat.
4. Jangan Normalisasi Kalimat “Namanya Juga Anak-Anak”
Salah satu tantangan dalam menghentikan bullying adalah kebiasaan menganggap perundungan sebagai hal biasa.
Kalimat seperti “cuma bercanda”, “jangan baper”, atau “namanya juga anak-anak” dapat membuat korban merasa pengalamannya tidak penting.
Candaan seharusnya membuat orang merasa senang. Jika sebuah candaan membuat seseorang takut, tertekan, atau dipermalukan berulang kali, orang dewasa perlu mengevaluasi situasinya.
5. Ciptakan Lingkungan Pertemanan yang Positif
Teman memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan anak. Karena itu, anak perlu didorong untuk membangun pertemanan yang sehat.
Ajarkan nilai empati, menghargai perbedaan, membantu teman yang kesulitan, serta berani mengatakan bahwa tindakan bullying bukan sesuatu yang benar.
Anak yang melihat bullying juga perlu memahami bahwa diam bukan satu-satunya pilihan. Mereka dapat mencari bantuan dari orang dewasa yang dipercaya.
Peran Orang Tua dalam Mencegah Bullying
Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk cara anak memperlakukan orang lain. Pendidikan tentang empati sebaiknya dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Orang tua dapat mengajarkan anak untuk memahami perasaan orang lain, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Selain itu, penggunaan media sosial juga perlu didampingi. Anak perlu memahami bahwa komentar, foto, video, dan pesan yang mereka bagikan dapat berdampak pada orang lain.
Peran Masyarakat dalam Menciptakan Lingkungan Aman
Pencegahan bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah dan orang tua. Lingkungan tempat anak tinggal juga memiliki peran penting.
Di tingkat masyarakat, kegiatan positif seperti olahraga, kegiatan sosial, komunitas anak, kegiatan keagamaan, dan aktivitas kreatif dapat menjadi ruang bagi anak untuk membangun hubungan sosial yang sehat.
Tokoh masyarakat, pengurus lingkungan, komunitas, dan lembaga sosial juga dapat ikut mengedukasi keluarga mengenai perlindungan anak.
Surabaya sebagai kota dengan masyarakat yang beragam memiliki peluang besar untuk membangun gerakan bersama yang menempatkan keselamatan dan tumbuh kembang anak sebagai perhatian bersama.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Menjadi Korban?
Jika anak menceritakan bahwa dirinya mengalami bullying, langkah pertama adalah mendengarkan.
Hindari menyalahkan korban atau memaksa anak untuk langsung menghadapi pelaku sendirian. Tanyakan apa yang terjadi, kapan kejadian berlangsung, siapa saja yang terlibat, dan bagaimana perasaan anak.
Jika kejadian terjadi di sekolah, orang tua dapat berkomunikasi dengan pihak sekolah secara baik dan meminta penanganan yang sesuai.
Untuk kasus yang melibatkan ancaman serius, kekerasan, atau risiko keselamatan, jangan menunggu masalah menjadi lebih besar. Carilah bantuan dari pihak yang berwenang atau layanan perlindungan anak yang tersedia.
Anak Juga Perlu Diajarkan Menjadi Upstander
Anak yang melihat bullying memiliki posisi penting. Mereka tidak harus menjadi “pahlawan” yang menghadapi pelaku secara langsung.
Mereka dapat membantu dengan tidak ikut menertawakan korban, menemani teman yang menjadi korban, mengajak korban menjauh dari situasi yang berbahaya, dan melaporkan kejadian kepada orang dewasa yang dipercaya.
Sikap sederhana tersebut dapat membuat korban merasa bahwa dirinya tidak sendirian.
Stop Bullying Dimulai dari Kita
Membangun lingkungan aman anak bukan pekerjaan satu pihak. Orang tua, sekolah, teman sebaya, masyarakat, komunitas, dan lembaga terkait perlu memiliki tujuan yang sama: memastikan anak dapat tumbuh tanpa rasa takut.
Bullying mungkin tidak dapat dihentikan hanya dengan satu kampanye. Namun, kebiasaan mendengarkan anak, membangun komunikasi terbuka, memberikan edukasi, serta berani bertindak ketika melihat perundungan merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan setiap hari.
Jika ingin menciptakan lingkungan yang lebih ramah anak di Surabaya, mulailah dari lingkungan terdekat. Dengarkan anak, hargai perasaannya, dan jangan diam ketika melihat bullying.